“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sayup terdengar dari balik tembok sebuah sekolah dasar yang sangat sederhana. Tak lama berselang kemudian, di kelas lain pun sang guru dengan lantangnya mengajarkan para siswa mengenai pasal-pasal dalam UUD’45, salah satu yang cukup menarikperhatian ialah ketika beliau mengajarkan tentang UUD pasal 34 ayat 1 yang berbunyi “Bumi, air dan seluruh sumber daya alam seisinya digunakan seluas-luasnya demi kesejahteraan rakyat.” Sontak ku terhenyak dan terdiam sejenak sembari melihat kondisi sekeliling sekolah tersebut, cukup terisolir dengan kondisi seakan-akan jauh dari akses perkotaan walaupun hanya berjarak ± 1 jam perjalanan dari sebuah kota besar bernama Jogjakarta, kota dengan segudang kaum intelektual dan kemudahan akses digital. Tak ada yang salah ataupun aneh dengan desa ini, namun hanya ditakdirkan untuk berada di kaki gunung Merbabu. Satu hal yang sangat kubanggakan, ada senyum bahagia dan semangat yang tersirat dari wajah para murid walupun berkilo-kilo meter jarak harus mereka tempuh untuk bertemu dengan sang guru.
Desa itu cukup indah dengan penduduk yang ramah, pemandangan merbabu yang fantastis serta ditunjang dengan infrastruktur (jalan) yang cukup baik, sama sekali tidak pantas untuk menjadikan desa tersebut menjadi sebuah desa miskin. Pada kenyataannya, desa itu hanyalah sebuah desa miskin di kaki Merbabu. Seorang bapak tua dengan langkah kecil perlahan menapaki jalan sambil memanggul rumput untuk ternak entah berapa kilo beratnya, yang pasti tumpukan rumut tersebut mampu menutupi hampir setengah tubuh rentanya, banyak wanita muda sudah harus memomong anak di usianya yang masih belia serta para orang tua dengan raut wajah yang tidak se-tua umurnya. Ironis memang, tapi inilah kenyataan, pemandangan real desa tersebut. Mereka miskin, kawan! Mereka juga bodoh! Sampai saat ini, lebih dari 65 tahun kemerdekaan Indonesia, menjadi bodoh dan miskin seakan-akan sudah menjadi kutukan bagi mereka.
Banyak pihak memprediksikan bahwa dalam 20-30 tahun mendatang Indonesia akan menjadi salah satu dari 5 negara pusat perekonomian dunia, sebut saja Brazil, China, India, Indonesia dan Rusia. Sekejap teringat dengan salah satu statement bung Karno yang menyatakan bahwa Pembentukan karakter bangsa adalah hal yang sangat mendesak dan penting sebelum akhirnya menjadi budak di negeri sendiri. Kondisi demikian telah menjadi kenyataan, kita telah menjadi budak di negeri sendiri, budak dari pihak asing yang menyedot kekayaan bangsa ini bernilai ratusan miliar setiap harinya namun anehnya sebagian dari kita malah bangga dengan kondisi demikian tersebut. Berpikir tentang kondisi 20-30 tahun mendatang, mungkin kondisi desa ini masih tetap miskin dan bodoh, tanpa ada perubahan signifikan. Atau mungkin keelokan desa ini akan terjamah dan diekploitasi oleh tangan-tangan rakus kapitalis tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Mereka itu miskin dan bodoh kawan! Jangan biarkan menjadi miskin dan bodoh adalah kutukan bagi mereka. Mereka hanya butuh diperhatikan dan diberdayakan agar kekayaan alam yang mereka miliki dapat dikelola lebih baik dengan manajemen yang professional. Mereka hanya butuh di buka pemikirannya bahwa bersekolah adalah hal yang utama, dunia ini begitu luas, bukan hanya dunia pertanian dan peternakan. Mereka hanya butuh didampingi agar mereka dapat hidup sebagai manusia yang demokratis, bebas dari berbagai kepentingan, apakah kepentingan misionaris maupun kepentingan dari pihak-pihak lain yang menjadikan mereka sebagai tumbal dan sapi perah. Mereka hanya butuh diberdayakan, kawan!
Kawan-kawan ku, tanpa disadari, kita adalah kaum yang cocok untuk memberdayakan masyarakat pedesaan. Mahasiswa dengan tingkat intelektualitas yang mumpuni, sikap kritis yang dibalut dengan jiwa sosial yang tak perlu dikhawatirkan lagi merupakan sosok yang selama ini mereka cari. Pengabdian ataupun pemberdayaan masyarakat bukanlah masalah program kerja maupun target kerja yang harus segera diselesaikan, namun lebih kepada exploring potensi kekayaan alam dan perbaikan mind set para pemuda sehingga mahasiswa nantinya dapat menjadi agen perubahan yang dapat mengarahkan warga untuk menjadi lebih cerdas dan sejahtera. Dengan tingkat pendidikan yang rendah dan wawasan minimalis, sulit bagi masyarakat desa untuk dapat mengelola kekayaan alamnya dengan optimal sehingga peran intelektualitas mahasiswa sangat dibutuhkan. Ilmu yang didapat di bangku kuliah, jaringan yang dimiliki serta kemampuan lainnya dapat digunakan untuk membantu desa untuk mengelola sumber daya alamnya. Mahasiswa disini memiliki peran yang sangat jelas, bukan sebagai sinterklas dengan sekarung uang tapi sebagai intelektual muda. Pada akhirnya, output dari pemberdayaan masyarakat disini bukan hanya program jangka pendek yang murni pengabdian masyarakat, namun lebih kepada program yang berkelanjutan yang berbau bisnis yang dikelola secara professional, warga desa dibimbing dan diberdayakan untuk mengelola sumber daya alamnya menjadi suatu produk ekonomi sedangkan para mahasiswa berperan sebagai pemain pasar, pengatur kebijakan dan pengelolaan lembaga bisnis secara professional. Dengan demikian, masyarakat pedesaan dapat lebih diberdayakan dan kesejahteraan pun meningkat sedangkan di lain pihak, tanpa di sadari telah lahir pengusaha-pengusaha muda Indonesia.
Ayo kawanku, Berhenti be-retorika! Mulai bergerak! Mari berantas kemiskinan dan pengangguran dengan menjadi pengusaha!
No comments:
Post a Comment